Pergumulan si Pasukan Orange

Insan Teratai
September 21, 2019
 Views

Di pinggir Jalan Pluit Indah no 23, duduk seorang tukang sapu. Teriknya matahari membuatnya berteduh di bawah naungan pohon cemara. Ia beristirahat sejenak sambil menikmati hembusan angin.
Sesekali ia mengipas-ngipas wajah dengan topi kuningnya. Sesekali juga ia melap keringat dengan handuk usang miliknya. Banyaknya cucuran keringat membuktikan kerja kerasnya selama enam tahun terakhir.
Ia kian terpanggang di bawah panasnya surya. Ia membiarkan kulitnya menghitam karena hal itu adalah bentuk pengorbanan nyata yang bisa ia lakukan.
Meski itu berat, tapi ia melakukannya demi keluarga; demi bapaknya yang terbaring sakit di atas kasur. Meski itu melelahkan, tapi ia tetap melakoninya demi sang putri supaya tidak putus sekolah. Meski hidup begitu keras, harapan hidup merupakan motivasi utama dia dalam membanting tulang.
Tidak hanya itu, perceraian dengan istri yang dialaminya dua bulan lalu, seolah-olah membuat hidup tidak bersahabat dengan pria 37 tahun itu. Sebagai single parent, ia menjalankan tugas rumah tangga seorang diri. Siapa lagi yang bisa memenuhi kebutuhan ekonomi selain dirinya, si tulang punggung keluarga.
Kebetulan hari itu adalah tanggal tua. Ia siap menerima upah atas kerjanya selama sebulan. Beranjaklah dia ke kantor kebersihan Tanjung Priok 15 km dari Pluit Village Mall.
“Ini gajimu,” ujar bosnya menyerahkan gaji dalam amplop coklat,
“Makasih, bos!” ungkap si tukang sapu gembira.
“Gini, din!” sambung bos, “Tiga minggu lalu, kau meminjam uang kantor untuk biaya pengobatan orangtuamu. Untuk melunasi hutang kemarin, maka gaji yang kau terima sekarang hanya seperempatnya.”
Ekspresi Udin si tukang sapu itu kontan berubah. Air mukanya suram usai diingatkan bahwa gajinya tidaklah utuh. Hatinya mulai gundah karena rasa cemas mulai menggerogoti sukacitanya di akhir bulan. Apalah daya selain melihat realita yang sedemikian mengecewakan.
Sebagai manusia biasa, kadang ia mengadukan keluh kesahnya di dalam doa. Sebagai rakyat biasa, kadang ia mengeluh dengan krisis keuangan dan hutang dengan atasan. Sebagai pria biasa, kadang ia termenung melamun dengan nasib putrinya di masa depan.
“Kau kenapa, Din?” tanya bos memastikan karyawannya.
“Oh, tidak apa-apa, bos!” serunya memasang senyum palsu, “Saya cuma memikirkan nanti uang ini mau dipakai untuk apa, itu saja.”
“Din,” panggil bosnya lagi.
“Ya bos?”
“Saya memahami betul keadaanmu,” ujar atasannya, “Saya bisa saja menghapus hutangmu yang kemarin. Saya bisa saja melunasi hutangmu pakai uang pribadi. Hal semacam itu sangat mudah dilakukan. Tapi…”
Si bos memberi jeda. Udin si tukang sapu jelas menanti kata-kata selanjutnya.
“Tapi satu yang tidak mudah. Kalau rekan-rekan kerjamu mencibirmu, bagaimana?“ lanjut si bos, “Kalau mereka sampai tahu bahwa saya selalu membebaskanmu dari hutang, gimana? kita berdua pasti dapat omongan di belakang. Saya tidak mau hal itu terjadi. Saya harap kau bisa mengerti, oke?”
“Melunasi hutang sudah jadi tanggung jawab saya, bos!”
“Baiklah kalau begitu,” kata si bos, “Tetap semangat, Din! Dan silakan, kau bisa meninggalkan ruangan dan melanjutkan pekerjaanmu.”
“Permisi, bos.”
Dengan perasaan sedih dicampur kecewa, ia kembali melanjutkan sisa jam kerjanya hari itu. Meski tangan menyapu-nyapu jalanan, namun pikirannya entah berantah melayang ke mana. Ia amat mencemaskan keperluan hidupnya untuk sebulan ke depan.
Namun, pikirannya yang melamun berhasil disingkirkan oleh suara perut tanda minta diisi. Ia sadar bahwa dirinya mulai merasa lapar sedari tadi siang.
Empat lembar cireng ia beli dari tukang gorengan di luar sekolah Tarakanita. Setidaknya cemilan itu sudah mampu menghentikan aksi ‘demo’ para cacing yang beraksi dalam perutnya.
Di deretan pedagang kaki lima itulah, Udin melihat dua remaja tengah memesan bakmie ayam. Salah satu dari mereka adalah seorangwaitress sedangkan satunya seorang staff. Mereka bekerja di mall yang sama, Pluit Village Mall.
“Adek-adek ini kerja di Pluit Village ‘kan? tanya si abang bakmie memastikan.
“Koq abang tahu?” heran si waitress.
“Soalnya aroma-aromanya kayak aroma di mall,” canda si abang.
“Bisa aja si abang,” balas si staff.
Pada jarak 1.5 meter dari gerobak bakmie, Udin dilanda pergumulan. Si pasukan Orange itu bersungut-sungut. Ia ingin sekali mendapat pekerjaan yang lebih baik layaknya mereka berdua.
“Andaikata aku bisa bekerja di mall seperti mereka,” keluhnya dalam hati, “Aku tidak akan kepanasan lagi. Aku tidak akan kotor-kotoran lagi. Aku tidak akan mencium aroma busuk yang menusuk lagi. Dan pastinya, gaji mereka lebih besar dari pekerjaanku yang sekarang.” (Andre)
*Note : Meski hidup begitu keras, ingat masih ada keluarga yang menjadi sumber motivasi!
***