Bertahan Di Tengah Tantangan

Insan Teratai
Agustus 19, 2020
 Views

Ketika mendengar amanat singkat dari Ibu Siang Riani pada upacara bendera secara virtual untuk memperingati hari kemerdekaan RI ke 75 bahwa kalau dahulu kita dijajah oleh bangsa penjajah tetapi pada saat ini kita dijajah oleh “Corona.” Apa yang dikatakan ini merupakan sesuatu yang simpel,   sederhana tetapi menyentuh nurani kesadaran kita saat dimana kita sedang berhadapan dengan situasi dunia yang dilanda oleh Corona.  Memang Corona adalah sesuatu yang tidak kelihatan,   yang kasat mata tetapi justru dibalik kekecilannya dan tidak sanggup dilihat oleh mata manusia,  corona sedang memporak-porandakan seluruh sendi  kehidupan  manusia.

 Bahwa orang-orang yang dulu hidupnya mewah dan mapan, kini harus mengalami keterpurukan hidup dihadapan corona. Seluruh agama yang selama ini  mengklaim diri sebagai agama yang paling benar tetapi dihadapan corona, semuanya tidak berdaya.  Lalu apa jadinya dengan kehidupan yang tengah dialami oleh manusia ketika berada di dalam terpaan corona  ini? Pola  pendidikan menjadi berubah karena jarak yang memisahkan antara guru-guru dan anak-anak didik. Karena terkendala oleh jarak yang jauh maka pola pengajaran turut terubah di dalamnya dengan menggunakan media sebagai “jembatan” untuk mempertemukan guru dan siswa di dunia maya. Apakah dengan proses pembelajaran daring ini membuat siswa dan guru-guru semakin nyaman?  Pada kenyataannya semua mengalami ketidaknyamanan  karena  orang tua merasa tidak nyaman karena selain mengurusi pekerjaan tetapi pada saat yang sama harus mendampingi anak-anak untuk belajar secara daring.

Orang tua tidak hanya berperan sebagai orang tua di rumah tetapi juga sebagai “guru dan pendidik”  untuk anaknya yang sedang belajar di rumah dan Ini menimbulkan sebuah problem yang luar biasa.  Di satu sisi orang tua sedang bekerja tetapi di sisi lain mereka mereka harus memberikan perhatian ekstra kepada anak-anak yang yang ada di rumah yang belajar secara daring. Apa yang dilakukan oleh guru,  merupakan  sebuah tuntutan  yang harus dilakukan karena dorongan situasi bahwa karena korona maka semua harus beralih dari pemahaman klasikal menuju sebuah perubahan baru yang terus bergerak.

Karena corona maka semua harus berada di rumah untuk bisa memutus sebuah  mata rantai kehidupan tetapi dengan corona yang sedang kita alami ini,  semestinya kita menyadari bahwa pendidikan bergerak maju dan banyak metode terus bergeliat di tengah terpaan tantangan yang pada akhirnya bisa menemukan apa yang disebut sebagai “pendidikan berproses.” Pendidikan tidak bisa berhenti di “pergelangan zaman” oleh karena imbas dari corona yang mematikan itu. 

Dalam proses pembelajaran,  semua guru dan juga peran serta orang tua bisa menjembatani situasi ini dengan berbagai cara.  Ada banyak kisah menarik ketika kita melihat proses pembelajaran bagi orang-orang yang berada di pedesaan,  mereka bisa naik di  atas pohon atau bahkan mengerjakan soal di atas atap rumah.  Untuk apa mereka naik ke atas pohon dan juga di atas atap rumah?  Apa yang mereka lakukan itu semata-mata untuk mencari sinyal agar seluruh pekerjaan mereka bisa terlaksana dengan baik.  Corona sedang mengubah seluruh pola perilaku dan  mengubah tatanan nilai yang selama ini sedang dibangun oleh manusia.  

Ada hal yang menarik yang bisa kita pelajari bahwa dengan memberikan materi secara daring,  “pengalaman kekosongan” yang sedang kita alami. Kita masuk dalam ruang keterasingan diri (alienasi) yang  sedang dirasakan oleh setiap orang. Dalam proses pembelajaran “di dunia maya,” guru-guru mengalami keterasingan diri karena jauh dari murid-murid dan murid-murid juga mengalami hal yang sama.  Di sini kita bisa melihat bahwa pendidikan jarak jauh atau secara daring hanya sekedar kegiatan  transfer ilmu tetapi yang jauh lebih penting adalah adalah pola penanaman nilai hanya bisa dilakukan melalui  interaksi langsung dan juga lewat tatap muka.  Dalam pola pembelajaran klasikal,  justru anak-anak  bisa mengalami keteladanan hidup dan juga melihat contoh dari figur para guru di sekolah yang bisa membentuk karakter anak-anak didik. 

Ilmu pengetahuan bisa dipelajari sendiri dengan bantuan media terutama internet yang membantu mereka untuk bisa mencari tahu tentang segala sesuatu tetapi ada hal yang tidak bisa dicari di dalam internet yaitu bahwa keteladanan dan juga nilai-nilai kehidupan,  tidak bisa ditemukan   dalam kecanggihan dunia teknologi ini.  Kita bisa melihat bahwa dengan peristiwa ini,  corona  tengah menggilas pola hidup kita sampai pada akhirnya kita tidak bisa berdaya di hadapannya.  Yang bertahan adalah dunia digital dan kita tahu bahwa digitalisasi saat ini seolah-olah mendominasi seluruh ruang kehidupan manusia. 

Manusia betul-betul tidak berdaya bahkan terlihat begitu kerdil dalam takaran nilai-nilai hidup.  Manusia pun tampaknya sungguh telanjang dibuatnya dalam keterasingan ini ketika kita diterpa oleh badai corona.  Kita seolah-olah mengalami ketidak-merdekaan kita.  Kita tidak bebas karena ruang-ruang publik kita dipersempit oleh gerakan corona yang senantiasa mengintai ketidak -merdekaan manusia yang dibuatnya dalam persembunyiannya. Setiap guru-guru dalam konteks a pembelajaran di bawah bayang-bayang corona, harus meng-upgrade, meng-uptodate, sebagai bentuk afirmasi diri untuk tetap bertahan dalam situasi apapun. Hanya dengan kemauan untuk berubah maka pada saat yang seorang guru tidak tergerus oleh waktu dan zaman. ***(Valery Kopong)